Showing posts with label Kawasan. Show all posts
Showing posts with label Kawasan. Show all posts

Ledakan Bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott





Hanya berselang dua menit, dua hotel mewah di kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta Selatan porak poranda oleh ledakan bom. Ledakan pertama terjadi pada pukul 07.45 WIB, 17 Juli 2009 mengguncang restoran Syailendra, yang berada di bagian depan hotel JW Marriott.

Kaca dan dan langit – langit hancur hingga kantor Bank Panin di Plaza Mutiara, sebelah kana JW Marriott. Pecahannya berhamburan hingga ke jalan raya. Para pengunjung, yang sebagian adalah warga asing, sedang menikmati sarapan (breakfast) ketika bom itu meledak. Petugas hotel dan pengunjung yang selamat lari kocar – kacir. Jeritan histeris terdengar di mana – mana.


Ledakan dahsyat berikutnya mengguncang Ritz Carlton, 50 meter dari Marriott, yang sebenarnya akan menjadi hotel peristirahatan para pemain MU yang ingin bertanding dengan Tim Indonesia All Star, namun batal. Bom diledakkan di Coffee Shop, yang terletak antara lobi utama dan Restoran Airlangga. Kemudian asap hitam berhawa panas menyergap.

Chandra, petugas keamanan gedung Bellagio Mansion, di depan Ritz Carlton, bersaksi, ledakan tersebut tanpa semburan api. Bahkan ia melihat orang terlempar menabrak kaca. Lain lagi dengan Muhbi, sekerat daging menempel pada mobil Toyota Alphard B-1600-SU yang disopirinya. Ketika ledakan terjadi, mobil itu sedang dicuci di dekat pos satpam Ritz-Carlton.

Sekitar 40 menit pasca ledakan, sebuah ambulans dan mobil pemadam kebakaran datang, disusul bertruk – truk polisi dan ambulans. Jalan ditutup, garis polisi dibentangkan.

Sebagian korban adalah warga Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, serta Belanda. Menurut data, korban tewas 9 orang, termasuk salah satunya Presiden Direktur PT Holcim, Timothy David Mackay, 64 tahun, warga Selandia Baru. Dan sedikitnya 55 orang terluka. Ditemukan pula dua kepala yang terlepas dari tubuh, masing – masing di Marriott dan Ritz Carlton.

Baca Selengkapnya ...

Surganya Rekreasi Air





Dari sekian banyak fasilitas yang tersedia di Pulau Dewata, Bali, olahraga air (water sport) kini semakin digemari para wisatawan. Mulai dari parasailing, banana boat, flying fish, jet sky, snorkeling, diving, sea walker, hingga rekreasi melihat kehidupan bawah laut dengan kapal selam. Ada beberapa lokasi yang menjadi surga kegiatan olahraga air tersebut. Di antaranya Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Dua, Padang Bay, Sanur, Gili Tepekong, Cemetuk, Tulamben, Menjangan Island, dan sederet nama lainnya.

Tanjung Benoa yang terletak di sebelah utara Nusa Dua, termasuk salah satu kawasan yang cukup lengkap fasilitas olahraga airnya. Tanjung ini menjadi pusat wisata dan pusat permainan air, karena lautnya yang tenang, tidak seperti Pantai Kuta, Sanur, atau Uluwatu. Di sini tersedia pula pelabuhan feri ke Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Penida.


Untuk mencoba aktivitas air, memang membutuhkan nyali yang besar. Bagi yang tidak dapat berenang dan takut ketinggian, disarankan untuk tidak mencobanya. Contohnya parasailing, olahraga ini menggabungkan terjun payung dan berlayar, dengan sebuah parasut dan dua buah tali kekang, yang ujungnya dikaitkan di sebuah speed boat yang menarik dengan kecepatan tinggi. Ketika badan terangkat sampai ketinggian sekitar lebih dari 100 m (seratus meter) inilah dibutuhkan keberanian tersendiri.

Nusa Penida dan Nusa Lembongan, yang ada di bagian selatan Pulau Bali, juga menawarkan pesona keindahan laut. Di sana tersedia paket tur dengan kapal pesiar, seperti Quicksilver Cruise, Bali Bounty Cruise, atau Bali Hai Cruise, baik paket day cruise maupun sunset dinner. Sedangkan Nusa Lembongan merupakan tempat diving dan snorkeling yang paling oke. Soal keamanan tidak perlu diragukan lagi, karena hampir semua operator untuk olahraga tersebut mempunyai lisensi dari PADI ( Professional Association of Diving Instructors ).

Wisata yang paling cocok untuk seluruh keluarga, terutama jika mengajak anak – anak yang masih kecil, pilihannya adalah glass bottom boat. Yaitu berlayar dengan sebuah perahu yang berkaca bening untuk melihat akuarium bawah laut di Pantai Tanjung Benoa. Pilihan lainnya adalah melihat secara langsung kehidupan bawah laut dengan kapal selam bernama Odyssey. Program berkeliling di bawah laut selama 45 menit ini ada di daerah Labuan Amuk.

Bila ingin merasakan sensasi lain, cobalah sea walker, yaitu berjalan – jalan di dasar laut seperti berjalan di darat tanpa kesulitan bernafas, bahkan bagi yang tidak bisa berenang sekalipun. Hanya kepala saja yang terlindungi helm yang tidak tembus air. Selang akan mentransfer oksigen yang diperlukan. Lama waktu perjalanan ini sekitar 45 menit. Anda bisa bermain dengan ikan dan binatang laut lain yang melintas di sekeliling. Saat ini, kegiatan sea walker hanya ada satu tempat di Indonesia, yaitu di Sanur, Bali.

Jadi, selamat menikmati liburan, nikmati Bali dengan segala keindahannya dan olahraga baharinya. Irfan Madani Zukhruf

[ Sumber Koran Tempo ]

Baca Selengkapnya ...

Museum Ronggowarsito, Kolektor Ribuan Pameran




Museum Ronggowarsito, Semarang, terletak tepatnya di Jalan Abdulrahman Saleh, No. 1, Semarang. Museum ini seluas 8.438 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 2 Hektare. Di depan pintu masuk, tampak ukiran huruf Jawa Kuno berisi pupuh 2 dan 7 Serat Kalatidha terpahat di dinding kayu jati. Di samping pintu masuk terdapat patung kereta kuda raksasa yang ditarik oleh empat ekor kuda perkasa. Cat warna merah dan putih yang menempel pada tubuh kereta kuda itu melambangkan keperkasaan dan nilai Patriotik masyarakat Jawa Tengah ketika menghadapi para penjajah. Memasuki Museum lebih dalam lagi, pengunjung Museum dapat melihat ornamen – ornamen Jawa. Hal tersebut dapat dipahami, karena arsitektur bangunan museum ini terdiri atas kombinasi tradisional Joglo dengan arsitektur modern.

Museum Ronggowarsito memiliki empat bangunan penyimpanan koleksi, yakni laboratorium, perpustakaan, ruang administrasi, serta pendopo dan auditorium. Walaupun namanya Museum Ronggowarsito, gedung ini tidak khusus menyuguhkan karya pujangga besar dari Keraton Surakarta, yaitu Raden Ngabehi Ronggowarsito ( 1802 – 1873 Masehi ) yang terkenal dengan karyanya, “Serat Kalatidha”. Raden tersebutlah yang meramalkan “Zaman Edan”, suatu zaman di mana aturan – aturan dan hukum dilecehkan serta diabaikan.


Bp. Supardi, pemandu utama Museum Ronggowarsito, mengatakan, hampir 70 % ( persen ) pengunjung museum ini, adalah para pelajar, mulai dari tingkat taman kanak – kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Museum yang diresmikan oleh Bp. Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan saat itu adalah yang terbesar di Indonesia, terutama dari luas bangunannya, dan merupakan museum yang koleksi barang antiknya terbanyak. Museum Ronggowarsito memiliki koleksi hingga 50 ribu. Koleksi – koleksi itu terdiri atas koleksi sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan, serta wawasan nusantara dari Zaman Prasejarah, Kolonial Belanda, hingga era saat ini.

Seluruh koleksi Museum Ronggowarsito dipajang di empat gedung, masing – masing bangunan terdiri atas dua lantai. Gedung A lantai I disebut Ruang Geologi. Di pintu masuk gedung ini, terdapat Gunungan Blumabangan yang menggambarkan kehidupan alam semesta, manusia, dan lingkungannya. Koleksi yang mendominasi ruangan ini berupa aneka bebatuan, tanah, serta replika gua berair. Adapula batu meteorit seukuran dua kepalan tangan yang dipajang dalam almari kaca. Batu tersebut ditemukan di Mojogedang, Karanganyar, pada tahun 1984.

Gedung A lantai II dipadati koleksi fosil, mulai dari fosil gajah, kerbau, hingga fosil kayu. Kemudian, di Gedung B lantai dasar, digunakan untuk menyimpan berbagai ornamen bangunan tempat ibadah, dan alat – alat ibadah berbagai agama, misalnya Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain – lain. Terdapat juga kitab suci Agama Islam, Al-Qur’an, tulisan tangan asli yang dibuat pada abad IX.

Di Gedung B lantai II, terpajang benda – benda peninggalan prasejarah dan peradaban Hindu – Buddha. Ada alat – alat batu dan logam menjadi sajian yang mewakili zaman prasejarah. Peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah merupakan salah satu peradaban tertua di Indonesia. Arca – arca Hindu, misalnya Arca Siwa, Durga, Agastya, dan Ganesha, dari Candi Ngempon di Pringapus, Kabupaten Semarang, merupakan salah satu koleksi yang ada di ruangan seluas 400 meter persegi itu.

Di Gedung C lantai I, terdapat pameran diorama yang menampilkan 8 ( delapan ) adegan peristiwa bersejarah tentang perjuangan bangsa. Gedung C lantai atas merupakan ruang etnografi yang memperlihatkan kehidupan Masyarakat Jawa. Ada pula pemaparan tentang industri beselen ( pandai besi ) yang berisi informasi edukatif, khususnya, tentang pembuatan alat – alat pertanian dan pertukangan, alat rumah tangga, serta benda pusaka yang biasa dikerjakan oleh seorang Empu.

Lantai atas Gedung D digunakan sebagai tempat menyajikan kesenian berbagai daerah di Jawa Tengah yang berupa peralatan, jenis alat musik, serta aksesori untuk pagelaran atau pertunjukan. Di antaranya, adalah Barongan dan Kuda Lumping, yang kesemuanya merupakan kesenian pertunjukkan tradisional berbau magis, sehingga, membutuhkan seseorang yang bisa menetralkan pemain saat mengalami trans ( Kesurupan ). Barongan sudah dikenal sejak masa Hindu – Budha, jauh sebelum Agama Islam berkembang di daratan Jawa Tengah. Lantai bawah Gedung D terdiri atas beberapa ruangan yang memisahkan satu konsentrasi dengan ruangan konsentrasi yang lainnya. Ada ruang pembangunan, ruang numismatik atau heraldika, ruang tradisi nusantara, ruang intisari dan ruang hibah. Ruang hibah adalah ruang yang memamerkan koleksi yang dihibahkan oleh masyarakat, baik individu maupun instansi. Di ruangan hibah terdapat berbagai mata uang asing dan Indonesia. Tampak pula mata uang Sumenep yang dibuat di Meksiko dan beredar di Indonesia pada 1550 – 1610, yakni pada masa Kerajaan Sumenep dan Madura. Adapula tosan aji, keris, tombak, dan sepeda pengantar surat.

Di ruang koleksi emas, terpajang koleksi berbahan emas, yang dibuat pada zaman klasik, misalnya, gelang, kalung, kelat bahu, binggel, cincin stempel, keris, dan berbagai bentuk wadah, yang diketemukan di beberapa daerah, seperti Wonoboyo, Klaten, seberat 25 kg (kilogram).

Setiap harinya, Museum yang berdiri pada 5 Juli 1989 ini tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan pada masa liburan sekolah, jumlah pengunjung dapat mencapai lebih dari 1.000 orang per hari. Setiap pengunjung dewasa harus merogoh kocek Rp 4.000,- sedangkan bagi anak – anak, wajib membayar separuhnya. Apakah Anda juga berminat berlibur di Museum Ronggowarsito ?





Baca Selengkapnya ...

Dapatkan update artikel dari saya, langsung ke E-mail Anda. Gratisss !!! Cukup dengan memasukkan alamat E-mail Anda, lalu klik Subscribe, lalu Login ke Email Anda dan klik Link Verifikasi, mudah bukan ...

 
Blog Master Zukhruf dimiliki oleh Irfan Madani Zukhruf